Secarik kertas kuambil dan sebuah mata pena ku tuliskan kata-kata nan indah untukmu tersayang.
Namun keindahan kata-kata tak seindah hatiku yang sedang dilanda kebahagiaan akan indahnya hadirmu dihidupku, entah sampai kapan rasa ini akan ada dalam sanubariku.
Kutitipkan salam pada angin yang meniupkan pda malam yang kelam ini agar dalam tidurnya terbesit bayanganku yang sedang merindukan dirinnya.
Kata-kata ku lempar tak beraturan,memecah kerinduan yang syahdu..
Krrreeeeeeeeekk.... tiba-tiba terdengar suara pintu yang retak seolah - olah ada orang datang mengendap ngendap ditepian pintu.
Ku lihat, bayanganmu datang menyiratkan senyum indah di wajahmu namun perlahan bayangan itu semakin kabur ku berusaha menangkap bayangan itu dengan cepat namun tak ada hasil dia semakin hilang.
Kasihhhhhhhhh........ kemana kau pergi, jangan meninggalkanku meski sekejap.
Air mata menetes membasahi pipiku tak terasa ku terjatuh tersungkur di sebelah kursi belajarku.
Subhanallah, Astagfirullah apa yang terjadi tadi padaku? Ku baru sadar bahwa aku melamunkan dirinya sekian menit dan melihat sekejap bayangan indah dirinya.
Sebegitu kuatkah ingatanku terhadap dia,,
Subhanallah... Cinta...
Cinta yang melesat ke dalam dada
Tak bisa ku cegah meski ku berlari menjauhkannya
Cinta itu tumbuh mengembang dan bersemi indah dalam hati
Kau telah melumpuhkan segala sendi tulang tulang rusukku
Sehingga aku semakin lemah tanpa dirimu
Roboh tanpa kata-kata indah darimu
Cintamu membuat aku semangat
Dan terkadang cintamu membuat ku tersungkur
............................................................................................................................
Trebesit bayangan perkenalan beberapa bulan silam
Sudah menjadi kebiasaan sehabis selesai Jama’ah Isya’ aku menyapa Facebookku. Pada saat itu aku membukanya dengan senyuman manis tersungging di bibirku. Aku melihatnya, ternyata ia juga lagi tersenyum, terlihat bibirnya memirah, berbeda dari hari-hari sebelumnya.Ada pemberitahuan, di tengah terlihat seperti ada pesan masuk, sementara dibagian pinggir kiri terlihat seperti ada permaisuri. Ia benar, ternyata memang ada permaisuri lagi meminta konfirmasi, kini aku telah mengkonfirmasinya. Komentarku buatnya : “Aku tak mau katakan, permaisuri itu tidak cantik, karena cantik adalah relative, begitu juga jelek, karena jalak juga relative”.
Aku tak tahu apakah ia adalah permaisuri yang Allah perkenalkan kepadaku, atau permaisuri yang Allah pertemukan denganku, atau permaisuri yang Allah hadiahkan buatku. Aku tak peduli dengan semua itu, yang jelas di sini ada rencana Allah, entah apa, hanya ia yang tahu, karena ia Maha tahu. Sekali lagi, yang jelas ini adalah rencana Allah…..!!!.. Selang beberapa menit aku menutup Facebookku.
Di hari berikutnya kembali aku menyapa Facebookku. Kini aku main-main dibagian obrolan di Fb. Aku melihat ada sekitar tiga puluh orang pada saat itu sedang online. Namun, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, sebagian mungkin ada yang sedang menyapa pasangannya, temannya, permaisurinya atau mungkin gurunya. Sesaat terdengar bunyi nyeletuk di pinggir bagian tempat obrolanku. Nampak warna mirah, tanda sedang ada yang menyapa. Aku pun membukanya
"Mar’atus Shalihah: Assalmu alaikum Akhi."
Begitulah awal kali dia menyapaku. Aku perkenalkan kepada anda, permaisuri tersebut namanya adalah Mar’atus Shalihah. “Akhi” adalah awal kalimat panggilan yang digunakan untuk menyapaku, sehingga akhirnya aku harus meladeni bicaranya dengan meminjam kata yang serasi dengannya “Ukhti”.
"Ajid: Wa alaikum Salam Ukhti".
Sebagai bentuk kewajiban sesama Umat Islam aku harus menjawab salamnya. Aku perkenalkan namaku kepada anda di sini, Ajid. Sebarnya namaku Mujaddidin. Namun, aku akrab dengan panggilan Ajid. Tak perlu ambil pusing dengan nama panggilanku, ini menurutku merupakan bentuk dari kedekatanku sama teman-temanku serta keakrabanku sama mereka. Hal ini juga diperktekkan di masa Rasul. Abu Hurairah contohnya, nama aslinya adalah Abdullah bin Shokher. Abu Bakar juga bukan nama asli, tapi julukan sebagai tanda keakraban dan penghormatan.
"Ajid: Salam kenal dariku buatmu Ukhti"
Aku melanjutkan pembicaraan. Laki-laki adalah pemimpin itulah yang aku pikirkan sehingga akulah yang harus memimpin percakapan ini, walaupun Mar’ah yang memulai percakapan.
"Mar’ah,: Terima kasih telah sudi berkenalan denganku dan terima kasih atas konfirmasinya Akhi"
Aku lebih akrab memanggil Mar’atus Shalihah dengan sebutan Mar’ah. Menurut aku nama dia kepanjangan, makanya aku menggunakan kalimat bagian awal secara utuh.
"Ajid,: Sama-sama, semuga perkenalan ini membawa berkah"
Tetap dengan percakapan yang sopan, karena dia telah memanggilku Akhi, mungkin sebagian ada yang risih dengan panggilan ini, karena panggilan ini (akhi/ukhti) lebih dimemonopoli golongan tertentu yang menyatakan dirinya sebagai golongan yang Islami. Namun, aku berpandangan lain. Akhi atau Ukhti lebih mengesankan arti persaudaraan antar sesama Umat Islam. Al-Qur’an juga telah mengatakan itu, sesungguhnya orang-orang mukmin semuanya adalah saudara. Aku melihat Mar’ah memanggilku murni karena panggilan ayat ini, bukan karena mengatasnamakan golongan tertentu dari kalangan kita.
Berakhirlah percakapanku. Kami tidak saling memperkenalkan diri, karena nama kami sudah tertera di info Facebook kami masing, begitu juga umur, alamat rumah dan sekolah kami. Jadi tak perlu kenalan di situ.
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar